HomeTonggakDasa Warsa Kelima 2010 – 2021

Dasa Warsa Kelima 2010 – 2021

5.1 Tahun 2011: Peresmian Bursa, Prasasti Asoka dan Kalama Sutta

Peresmian Bursa Dhammadīpa Ārāma ini bertepatan dengan ulang tahun Bhante Khantidharo Mahāthera yang ke-80, pada tanggal 17 Juli 2011.

Dibangun pula Prasasti Asoka yang memuat tentang toleransi umat beragama. Prasasti Kalama Sutta yang berisikan khotbah Buddha kepada Suku Kalama yang pada inti khotbah tersebut Buddha menyarankan agar tidak mudah percaya pada kitab-kitab suci agama, doktrin agama, petuah pemuka agama termasuk Buddha, sebelum membuktikan kebenarannya sendiri.

5.2 Kolam Gajah Mada, Kolam Upagupta, dan Kolam Sivali

1. Kolam Gajah Mada

Patih Gajah Mada adalah salah satu bentuk atau sikap yang menunjukan saat dia mengucapkan Sumpah Palapa untuk menyatukan Nusantara. Sumpah Palapa itu berisi janji beliau yang tidak akan memakan buah Palapa bila belum berhasil menguasai Nusantara.

2. Kolam Upagupta

Di Myanmar ia dikenal sebagai Shin Upagutta. Do Lokapannatti Upagupta dikirim oleh Ashoka untuk menjinakan Mara selama festival upacara percandian, setelah itu ia memintanya untuk mengambil bentuk fisik (rupakaya) Buddha sehingga semua orang di festival dapat melihat seperti apa rupa Buddha.

3. Kolam Sivali

Patung Sivali biasanya di gambarkan berdiri tegak dan membawa tongkat berjalan, mangkuk sedekah dan tasbih. Orang Myanmar percaya bahwa melakukan puja pada Sivali memberikan kondisi akan membawa kemakmuran dan keberuntungan.

4. Telapak kaki Sang Buddhha (Siripada)

Di telapak kaki Sang Buddha terdapat urat-urat yang menggambarkan Dhammacaka yang selalu dipuja oleh umat Buddha.

5. Patung Dewi Bumi

Patung Dewi Bumi terletak di depan Uposathaghara yang menggambarkan Dewi Bumi yang menjadi saksi atas kebenaran pencapaian Penggenapan Kebajikan (Paramitta) mengalahkan godaan Mara. Pada saat itu seketika keluar air dari gulungan sanggulnya.

5.3 Tahun 2016: Bhante Khantidharo Mahāthera Menerima Upādhi (Gelar)

Pada tahun 2016, di acara ulang tahun Sangha Theravāda Indonesia ke-40 yang diselenggarakan di Jakarta, Bhante Khantidharo Mahāthera kembali menerima penghargaan. Gelar tersebut dianugerahkan atas dedikasi atau pengabdiannya selain kepada umat Buddha di Indonesia, juga khususnya atas konsistensi beliau dalam mendidik dan mengajarkan Dhamma para Sāmaṇera dan Aṭṭhasilani melalui Sekolah Tinggi Agama Buddha (STAB) Kertarajasa yang berlokasi di Kota Batu, Jawa Timur. Perhatian beliau begitu besar terhadap dunia pendidikan khususnya STAB Kertarajasa tetap beliau lakukan meskipun di usia senjanya, 90 tahun.

Sangha Theravāda Indonesia menganugerahkan gelar kepada Bhante Khantidharo Mahāthera atas dedikasi yang telah beliau lakukan. Gelar yang dianugerahkan kepada Bhante Khantidharo Mahāthera adalah Kulaputta Vijjā Anukampaka. Kula berarti keluarga, putta berarti putra/putri atau anak-anak, dan vijjā berarti mengajar atau menyebarkan ilmu pengetahuan. Anukampaka berarti orang yang penuh cinta kasih dan kasih sayang. Sehingga, arti secara keseluruhan dari Kulaputta Vijjā Anukampaka yaitu “Orang yang penuh cinta kasih dan kasih sayang menyebarkan atau mengajarkan pengetahuan kepada keluarga putra-putri atau anak-anak”.

5.4 Tahun 2017: Peresmian Panca Vagiya Bhikkhu

Panca vagiya bhikku terdiri dari Kondañña, Bhaddiya, Vappa, Mahanama, Asaji. Panca vagiya bhikkhu adalah yang mendengarkan khotbah pertama kali dari Sang Buddha. Khotbah tersebut dikenal sebagai Dhammacakka Pavathana Sutta.

5.5 Peresmian Bhāvanā Sālā Untuk Pria dan Peringatan HUT Bhante Khantidharo Mahāthera yang ke-88 tahun

Bertepatan dengan perayaan ulang tahun (Āyu Vaḍḍhanamaṅgala) Bhante Khantidharo Mahāthera yang ke-88, yang dilaksanakan pada tanggal 17 Juli 2019, juga diselenggarakan peresmian Bhāvanā Sālā Untuk pria dan juga pondok meditasi (kuti) bagi para yogi.

5.6 Tahun 2019: Peresmian Patung Buddha Berdiri

Pada tanggal 17 Februari 2019 diresmikan Patung Buddha Berdiri, tepat pada hari Magha Puja. Patung Buddha berdiri dengan sikap telapak tangan kanan terangkat menghadap ke depan dan telapak kiri menghadap ke depan dan berada di bawah atau yang disebut sebagai Abhaya Mudra. Abhaya Mudra memiliki arti dan makna melambangkan perlindungan dari mara bahaya, memberikan kedamaian dan ketenangan serta menghilangkan ketakutan. Mudra tersebut juga memberikan makna bahwa ajaran Sang Buddha mampu menjauhkan dunia dari segala jenis mara bahaya dan membebaskan semua makhluk dari ketakutan, serta membawa kebahagiaan dan kedamaian bagi semua makhluk.

Sedangkan, sikap yang kedua dengan tangan kanan di depan tangan kiri dan telapak tangan menghadap di depan dada berarti bahagia. Kedua patung ini diletakan di depan Uposathaghara di antara Shanti Stupa dengan tinggi mencapai 330 cm dan terbuat dari batu.

5.7 Tahun 2019: Peletakan Batu Pertama Pembangunan Asrama Aṭṭhasīlanī dan Pembangunan Bhāvanā Sālā untuk Wanita

Pada tanggal 19 September 2019 telah dilaksanakan peletakan batu pertama Pembangunan Asrama Khantidharo Mahāthera dan Pembangunan Bhāvanā Sālā untuk wanita oleh Bhikkhu Khantidharo Mahāthera. Bangunan Bhāvanā Sālā wanita menjadi fasilitas/sarana tempat tinggal bagi para yogi wanita berjumlah 30 kamar tidur.

5.8 Patung Pertapa Gotama Menyiksa Diri

Patung pertapa Gotama dengan tubuh kurus kering diresmikan untuk mengingatkan betapa beratnya perjuangan Beliau mencapai Kebebasan Agung Nibbāna. Ketika menjelang keputusannya untuk bermeditasi tiada henti di bawah pohon Bodhi beliau berseru:

“Aku bertekad, walaupun kulitku, uratku, dan tulangku yang tersisa, dan walaupun daging dan darahku mengering dalam tubuhku, aku tidak akan mengendurkan usahaku sebelum mencapai apa yang dapat dicapai kekuatan manusia, dengan kegigihan manusia, dengan usaha manusia.”

5.9 Patung Bayi Sidharta

Patung Bayi Siddharta yang menunjukan tekad Beliau pada waktu menginjak bumi serasa berseru dengan menunjuk tangan kanan keatas dan tangan kiri ke bawah yang sering diartikan oleh orang banyak sebagai:

“Aku pernah tinggal demikian lama di surga Tavatimsa dan sekarang aku turun ke bumi untuk menyempurnakan kebajikan (Paramita) serta mengakhiri samsara”. “Aggo’ham asmi lokassa! Jettho’ham asmi lokassa!, ayam antima jati!, Natthi dani punabbhavo!” (Akulah yang terluhur di dunia ini! Akulah yang teragung di dunia ini! Akulah yang termulia di dunia ini! Inilah kelahiran-ku yang terakhir! Tak akan ada lagi kelahiran kembali bagi-ku.)

Tonggak Pencapaian