3.1 Tahun 1992: PDA Bersinar Kembali, Kehadiran Bhante Khantidharo, Pembangunan Kuti
Bhikkhu Khantidharo menetap di Padepokan Dhammadīpa Ārāma sejak tahun 1992, dan sejak tahun 1992 itulah mulai dibangun kuti-kuti para Bhikkhu dan untuk umat peserta latihan Vipassana (semuanya dibangun dari kayu besi/ulin). Kayu besi/ulin merupakan kayu dengan kualitas terbaik karena antirayap dan antiair, sehingga bisa bertahan hingga ratusan tahun.
3.2 Tahun 1995: Peresmian Bhavana Sabha
Tahun 1995 diresmikan bangunan khusus segi delapan untuk meditasi (dengan nama Bhavana Sabha). Bhavana berarti pengembangan batin, sedangkan Sabha artinya ruangan atau tempat. Bhavana Sabha dapat diartikan sebagai ruangan yang khusus digunakan untuk melatih mengembangkan batin khususnya Meditasi Vipassana. Segi delapan melambangkan Jalan Tengah yang Berunsur Delapan (disingkat Sīla, Samadhi dan Paññā).
Dalam ruangan ini terdapat empat ukiran dari kayu besi/ulin di keempat baik bagian luar maupun dalam. Pada sisi dalam tertera empat peristiwa penting yaitu saat Pangeran Siddhattha bertemu dengan orang tua, orang sakit, orang meninggal dan seorang petapa. Sisi luar tertera ukiran pada saat Pangeran Siddhattha lahir di Taman Lumbini, saat Beliau mencapai Penerangan Sempurna di Bodhgaya, saat Beliau kalinya khotbah pertama di Isipatthana, dan saat Beliau Parinibbāna di Kusinara. Pada pintu dan jendela Bhavana Sabha terdapat gambar ukiran lambang kebesaran Sang Buddha dan Ajaran-Nya.
3.3 Tahun 1997: Peresmian Uposathaghara, Bale Kambang, Buddha Rebahan, dan Shanti Stupa
Tanggal 28 November 1997 diresmikan Uposathaghara, Buddha Rebahan, dan Bale Kambang, yang dihadiri oleh para bhikkhu baik dari dalam negeri maupun luar Negeri.
Uposathaghara adalah bangunan khusus yang digunakan untuk upacara-upacara kebhikkhuan (Upasampada, Patimoka, dll). Pada bangunan ini terdapat sima atau batas, yang terdiri dari 9 titik dan telah dibacakan oleh anggota Sangha Thailand dan Sangha Theravāda Indonesia. Sejak saat itulah diadakan penahbisan para bhikkhu baru di Uposathaghara ini dua tahun sekali bergantian dengan penahbisan bhikkhu di Uposathaghara Vihāra Jakarta Dhammacakkha Jaya di Jakarta Utara. Pintu dan jendela Uposathaghara terbuat dari kaca berukir lambang Kebesaran Sang Buddha dan Ajaran-Nya.
Reclining Buddha adalah salah satu bentuk atau sikap meditasi yang dilakukan Sang Buddha sebelum Beliau Parinibbāna. Sebelum Parinibbāna Beliau bersabda: “Vaya Dhamma Sankhāra, Appamādena Sampadettha” yang berarti “Segala Sesuatu Adalah Tidak Kekal, Untuk Itu Berjuanglah Dengan Sungguh-Sungguh Untuk Mencapai Kebebasan”. Demikian sabda terakhir Sang Buddha yang ditulis dalam Māhāparinibbāna Sutta.
Bale kambang adalah tempat atau ruangan terbuka di atas sebuah kolam yang dapat digunakan untuk berbagai macam kegiatan, khususnya sebagai tempat meditasi, rapat, diskusi Dhamma, dan lainnya.
Shanti Stupa adalah bangunan Stupa dengan gaya Borobudur, yang terletak di depan Uposathagara, yang didalamnya terdapat Buddha rupang dan berfungsi sebagai tempat penyimpanan abu jenazah para bhikkhu.
3.4 Tahun 2000: Peresmian STAB Kertarajasa
Atas dorongan tekad mulia untuk mengondisikan perkembangan agama Buddha, Yayasan Dhammadīpa Ārāma telah melangkahkan kaki ke dalam dunia pendidikan dengan mendirikan SEKOLAH TINGGI AGAMA BUDDHA (STAB) KERTARAJASA. Pendirian ini telah mendapatkan izin operasional dari Dirjen Bimas Hindu Departemen Agama Republik Indonesia Oktober 2000 dan sekaligus telah diresmikan oleh Dirjen Bimas Hindu dan Buddha Departemen Agama Republik Indonesia dan Mahānayaka Saṅgha Theravāda Indonesia YM Sri Paññavaro Māhathera pada tanggal 23 Oktober tahun yang sama.
Dukungan ini tidaklah berlebihan mengingat tujuan dari pendirian STAB ini adalah melahirkan calon-calon Bhikkhu serta Dhammaduta yang handal dan profesional dalam memberikan pelayanan pendidikan sebagai guru agama Buddha dan profesi Dhammadutta yang lain.